Surat al Isra’ merupakan surat ke 17 dalam al Qur’an yang terdiri dari 111 ayat dan tergolong sebagai surat Makkiyyah. kata Isra’ sendiri memiliki arti perjalanan malam. Didalam surat ini mengisahkan tentang perjalanan Nabi Muhammad mulai dari masjidil haram menuju masjidil aqsho, dan dari masjidil aqsho hingga ke sidrotul muntaha.
Kisah tersebut termuat dalam ayat pertama surat al Isra’
Allah berfirman :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).
Kita ketahui bahwa perjalanan itu memakan waktu tidak begitu lama. Bahkan dikatakan bantal dan alas yang digunakan Nabi untuk tidur masih hangat saat nabi kembali dari perjalan tersebut.
Hal itu tentu membuat orang kafir menjadi ingkar dengan cerita yang disampaikakan oleh Nabi selepas beliau melakukan Isro’ Mi’roj. Pasalnya, jarak dari masjidil harom ke masjidil aqso sangat terlampau jauh, yang kala itu bisa ditempuh selama satu bulan bahkan lebih dengan menunggangi unta yang besar. Tentu cerita yang nabi sampaikan terkesan mengada-ada dan sangat tidak masuk akal.
Dalam kitab Tafsir wa Khawathiru Al Qur’an Al Karim karangan Syaikh Mutawalli Asy Sya’rawi. Beliau menyebutkan, bahwasannya perjalanan tersebut bukanlah berdasarkan orientasi akal manusia, melainkan hal tersebut merupakan Kuasa Allah yang mampu melakukan segalanya. Sungguh tidaklah mungkin terjadi, apabila perjalanan tersebut tidak melibatkan kuasa dari Allah SWT. Oleh sebab itu Allah berfirman : أَسْرَى بِعَبْدِهِ (Yang telah memperjalankan hamba-Nya).
Mengenai hal itu, kita dengan mudahnya mempercayai anak kecil yg bercerita telah naik gunung bersama ayahnya dalam waktu sehari saja. Karena kita tahu bahwa hal tersebut adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa tanpa mempedulikan waktu tempuh yang mampu dilakukan oleh anak seusianya.
Lantas, akankah kita mengingkari kuasa Allah yg memperjalankan nabi Muhammad dengan jarak tempuh yg begitu jauh dan dengan sedikitnya durasi waktu? Sedangkan kita tahu, bahwa Allah adalah Dzat yg Maha Berkuasa!
Hikmah yg bisa kita ambil dari kisah diatas adalah :
Kemampuan manusia akan berada diluar logika ketika Allah telah menghendakinya
Wallahu A’lam