Islam agama yang ajarannya sangat menjaga kesantunan dan harga diri pemeluknya sebagai manusia. Jika kita membaca beberapa literatur tentang manusia, maka akan dijumpai cerita kemanusiaan yang tidak manusiawi. Contohnya perempuan, mereka pernah memiliki masa kelam tidak dihargai secara baik sebagai manusia. Lahirnya perempuan dianggap sebagai cacat keluarga atau suku, sehingga mereka dikubur hidup-hidup. Datangnya Islam mengangkat harga diri mereka. Lelaki juga seperti itu. Mereka pernah mengalami masa harga diri kemanusiaannya sangat rendah.
Salah satu ajaran Islam yang mengangkat harga diri kemanusiaan adalah perihal menutup aurat. Secara bahasa, aurat memiliki arti aib, cacat, cela (Kamus Bin Mahfud Digital). Aurat secara istilah diartikan dengan bagian anggota badan yang tidak boleh ditampakkan atau terlihat oleh orang yang selain mahram. Karena tidak boleh ditampakkan, berarti wajib ditutup. Devinisi seperti ini sudah umum disebutkan oleh ulama fikih.
Aurat bagi lelaki dan perempuan terperinci menjadi dua; di dalam salat dan di luar salat. Artikel ini hanya akan membahas aurat lelaki, baik di dalam salat atau di luar salat. Aurat lelaki di dalam salat menurut mazhab Syafiiy adalah anggota tubuh antara pusar dan lutut. Pendapat ini sama dengan pendapat dalam mazhab Hambali. Namun, ketika melakukan shalat, pusar dan lutut wajib ditutupi juga, karena kesempurnaan menutup di antara keduanya tidak akan terlaksana tanpa menutup keduanya (Fathul Muin: 14).
Nah, sekarang sebatas mana aurat lelaki di luar shalat? Inilah pokok masalah dalam artikel ini.
Banyak sekali orang memahami bahwa aurat lelaki di luar salat sama dengan aurat lelaki di dalam salat, yakni anggota tubuh antara pusar dan lutut. Karenanya kita sering menyaksikan para lelaki dengan santainya bertelanjang dada di hadapan perempuan selain mahram. Apakah tindakan para lelaki seperti itu sudah sesuai syariah. Mari perhatikan penjelasan salah satu ulama dalam kitab Al Bajuri Juz 1/ 140 berikut ini.
وهذه عوره الرجل في الصلاه وكذا عند الرجال وعند النساء المحارم واما عورته عند النساء الاجنبيات فجميع بدنه وفي الخلوه السوءاتان فقط
Artinya (secara kontekstual): Pembahasan mengenai aurat lelaki antara pusar dan lutut itu tertuju pada aurat di dalam shalat, di hadapan sesama lelaki, dan di hadapan perempuan mahram. Sedangkan aurat lelaki di hadapan perempuan selain mahram adalah seluruh anggota tubuhnya. Dan aurat mereka dalam kesendirian adalah qubul dan dubur saja.
Perhatikan kalimat yang digarisbawahi! Aurat lelaki di hadapan perempuan selain mahram adalah seluruh anggota tubuhnya. Bagaimana dengan keadaan lelaki sepanjang yang kita saksikan dalam kehidupan, bukankah membuka aurat menjadi hal yang lumrah oleh mereka? Jika demikian, maka sesungguhnya mereka telah berdosa.
Untungnya, agama Islam menilai kebenaran yang diungkap ulama dari Alquran dan Hadits sebagai sesuatu yang relatif. Kerelatifan itu membuka peluang berbeda pendapat di antara para ulama. Menurut istilah Prof. Quraisy Shihab; tidak ada yang bisa memonopoli kebenaran kecuali Allah.
Sebagai jalan keluar, perhatikan kutipan pendapat ulama dalam kitab I’anatut Thalibin 3/259 berikut ini.
وعبارة المنهاج والأصح جواز نظر المرأة الى بدن أجنبي سوى ما بين سرته وركبته ان لم تخف فتنة،قلت الأصح التحريم كهو اليها والله أعلم.
Artinya (secara kontekstual): Keterangan dalam kitab Al-Minhaj adalah sebagai berikut: pendapat yang lebih shahih mengatakan tentang hukum bolehnya perempuan melihat anggota badan lelaki bukan mahram selain anggota antara pusar dan lutut JIKA tidak khawatir muncul fitnah. Penulis I’anah memberikan keterangan: “Menurutku, yang lebih shahih adalah tetap haram walaupun tidak khawatir muncul fitnah.”
Dalam kitab I’anatut Thalibin, penulisnya mengutib keterangan dalam kitab Al-Minhaj tentang bolehnya seorang perempuan melihat aurat lelaki selain antara pusar dan lutut menurut pendapat paling shahih, asalkan aman dari fitnah. Akan tetapi, penulis Ianatut Thalibin sendiri menerangkan atau membuat bantahan terhadap Al-Minhaj bahwa yang lebih shahih adalah tetap haram.
Dari berbagai pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa aurat lelaki di luar shalat di hadapan perempuan bukan mahram sebenarnya sama dengan aurat perempuan di hadapan lelaki bukan mahram, yakni seluruh tubuh. Ulama berbeda pendapat tentang hukum melihatnya. Menurut keterangan Al- Minhaj, perempuan bukan mahram boleh melihat aurat lelaki selain antara pusar dan lutut asalkan aman dari fitnah. Dan menurut keterangan dari penulis I’anat Thalibin, tetap tidak boleh alias haram walaupan aman dari fitnah. Oleh sebab itu, hendaklah lelaki tidak bertelanjang dada di hadapan perempuan bukan mahram.
Demikianlah pembahasan seputar masalah aurat lelaki di hadapan perempuan bukan mahram. Semoga menjadi tambahan pengetahun untuk para pembaca. Wallahu a’lam bis-shawab.