Oleh: A. Rohman
Mandi termasuk bagian dari thaharoh. Mandi orang jinabah atau haidl adalah wajib, oleh karna itu saat seseorang dalam keadaan tersebut lebih baik jangan sampai melepas sesuatu bagian dari tubuh, baik rambut atau kuku.
Bagaimana hukumnya kalau sampai menghilangkan/memotong rambut atau kuku? Dalam hal ini banyak yang meyakini bahwa kalau memotong hal itu (rambut atau kuku) saat di akhirat akan dikembalikan dalam keadaan junub dikarenakan bagian yang dipotong itu masih belum suci, memanglah benar pernyataan tersebut yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umairah juz 1 H 68;
قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ لَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُزِيلَ شَيْئًا مِنْ شَعْرِهِ أَوْ يَقُصَّ شَيْئًا مِنْ ظُفْرِهِ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبِينَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إذْ سَائِرُ أَجْزَائِهِ تُرَدُّ إلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ فَيَعُودُ جُنُبًا، وَيُقَالُ: إنَّ كُلَّ عَشَرَةٍ تُطَالِبُهُ بِجَنَابَتِهَا انْتَهَى
“Imam Ghozali dalam kitab ihya’ berkata; ”Seseorang tidak boleh mencabut apapun dari rambutnya atau memotong sesuatu dari kuku atau memisahkan atau mengeluarkan darah atau menunjukkan dirinya sendiri dari bagian junub, karena semua bagian yang terpisah akan dikembalikan dalam keadaan junub kelak di akhirat, dan dikatakan bahwa setiap sepuluh yang terpisah yaitu dia akan meminta atas ketidakmurniannya.”
Akan tetapi tidak ada satu riwayat pun yang melarang atau mewajibkan memotong rambut atau kuku, demikian pula tak ada riwayat yang memerintah untuk membasuh rambut rontok wanita haidl bersamaan mandi haidl, yang ada hanya hadist yang merjelaskan “menyisir rambut” sebagai mana hadist Shahih Al-Bukhori yang diriwayatkan oleh Aisyah saat berihrom untuk umroh yang mendapati dirinya dalam keadaan haidl, kemudian mengadukan kepada Rasullah Saw lantas beliau bersabda:
دَعي عُمْرَتَك وَانْقُضي رَأْسَك وَامْتَشطي
“Tinggalkanlah umrohmu, uraikan rambutmu dan bersisirlah.” ( HR. Bukhari halaman 280)
Dan juga tidak ada riwayat yang memakruhkan, ini adalah dalilnya:
وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا بل قد قال النبي للذي أسلم : ألق عنك شعر الكفر واختتن. فأمر الذي أسلم أن يغتسل ولم يأمره بتأخير الاختتان وإزالة الشعر عن الاغتسال فإطلاق كلامه يقتضي جواز الأمرين
“Sementara saya belum pernah mengetahui adanya dalil syariat yang memakruhkan potong rambut dan kuku, ketika junub. Bahkan sebaliknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang masuk islam, “Hilangkan darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.” Beliau juga memerintahkan orang yang masuk islam untuk mandi. Dan beliau tidak memerintahkan agar potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak adanya perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mand.”i (Fatawa Al-Kubra, 1:275).
Jadi kesimpulannya, sebagaimana dalam buku Referensi Penting Amaliyah NU & Problematika Masyarakat: Boleh-boleh saja bagi orang haidl atau jinabah memotong rambut atau kuku, cuma sebaiknya ketika dalam seperti itu (haidl atau jinabah) jangan sampai menghilangkan rambut, kuku, darah dan lain-lain dari anggota tubuh.
وَالله أعلم بالصّواب