Makmum Masbuq dan Makmum Muwafiq

Abul Abbas
5 Min Read

Makmum Masbuq dan Makmum Muwafiq

Oleh: Abdul Basit

     Salat merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan dari empat macam ibadah, yaitu salat, puasa di bulan romadon, zakat, dan haji bagi yang mampu. Dari keempat ibadah ini, salatlah yang paling sering dilakukan dalam sehari yaitu sebanyak lima kali.

     Selain hanya sebagai ibadah, salat mempunyai hikmah-hikmah tertentu pada setiap gerakannya. Contohnya hikmah ketika mengangkat kedua tangan seraya takbiratul ihram, hikmah ketika ruku’, dan lain sebagainya. Imam Syafi’I berpendapat mengenai hikmah yang terkandung ketika mengangkat kedua tangan, beliau berkata, “Aku mengangkat kedua tangan itu karena mengagungkan Allah Ta’ala dan ittiba’, ikut jejak langkah Rasulullah SAW.” Dan hikmah ketika sujud yang mana diterangkan oleh Imam Al-Iroqi dalam kitab syarah At-Tirmidzi:                                    

اقرب ما يكون ااعبد من ربه وهو ساجد فاكثروا الدعاء اي فيه    

“Keadaan yang paling mendekatkan hamba kepada Tuhannya adalah pada waktu sujud, maka dari itu perbanyaklah do’a pada waktu sujud”. Dari ini bisa disimpulkan bahwa salat sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

     Dalam salat, terdapat dua cara untuk melakukannya. Pertama dengan cara salat munfarid (salat sendirian), dan kedua secara berjamaah. Salat munfarid bisa dilakukan cukup hanya dengan seorang diri, memenuhi sarat sarat yang ada di dalamnya, dan menghindari perkara perkara yang dapat membatalkanya. Lain halnya dengan solat berjamaah, yang mana cara pelaksanaanya minimal dilakukan oleh dua orang (imam dan makmum) serta sarat dan ketentuannya yang lebih banyak, seperti keharaman mendahului imam, kemakruhan menyamakan gerakannya imam dalam perpindahan rukun, dan lain sebagainya.

     Mengenai makmum dalam salat berjamaah dibagi menjadi dua macam, pertama makmum masbuk, dan kedua makmum muwafiq. Kedua makmum tentu berbeda, perbedaannya yaitu makmum masbuq adalah seorang yang tidak mendapatkan (menututi) waktu yang cukup untuk membaca fatihah bersama imam, sedangkan makmum muwafiq adalah seorang yang mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca fatihah bersama imam. Dari devinisi ini bisa diketahui bahwa seseorang dikatakan makmum masbuk jika memang ia tidak menututi membaca fatihah bersama imam.

     Makmum muwafiq cara melakukan salatnya cukup dengan mengikuti gerakan imam seperti lumrahnya. Akan tetapi, makmum masbuq masih terdapat ketentuan yang lebih banyak yang harus dilakukan. Sebagaimana yang diterangkan dalam (Kitab Hasyiyatus Syarqowi . juz-1. hal. 187. Darul Kutub Al Islamiyyah) :  

  . . . والحاصل انه ان لم يشتغل بسنة وجب عليه ان يركع مع الامام فان لم يركع معه فاتته الركعة ولاتبطل صلاته الااذاتخلف بركنين بلاعذر وان اشتغل بسنة فان ظن انه يدرك الامام فى الركوع تخلف لقراءة الفاتحة ثم بعدتكميلها ان ادرك الامام راكعا ادرك الركعة والا فاتته وان لم يظن ادراكه فى الركوع وجب عليه نية المفارقة فان تركه بطلت ان تخلف باكثرمن ركنين اما اذا تخلف بهما بلا نية مفارقة فلا تبطل على المعتمد . . .الخ      

“…. Apabila makmum masbuq setelah takbir tidak melakukan kesunnahan (membaca doa iftitah atau ta’awwudz), maka wajib ruku’ bersama imam. Dan jika dalam ruku’ tidak bersamaan dengan imam, maka tidak dianggap mendapat mendapat satu raka’at dan salatnya tidak batal selama tidak tertinggal dua rukun dari imam tanpa udzur. Apabila masih melakukan kesunnahan setelah takbir, serta ia mengira akan menututi ruku’nya imam maka ia menggalkan membaca fatihah dan menyempurnakan kesunnahannya, dan mendapatkan satu raka’at jika memang menututi. Akan tetapi jika tidak mengira akan menututi ruku’nya imam, maka wajib baginya niat mufaroqoh (niat pisah dari imam). Dan salatnya bisa batal jika ia tidak niat ketika tertinggal lebih dari dua rukun, dan jika tertinggal dua rukun maka tidak batal menurut pendapat yang mu’tamad.”

     Dengan adanya keterangan yang lebih banyak dalam makmum masbuq, banyak orang yang belum mengerti tentang ketentuannya. Sehingga bisa berakibat batal pada salat.

     Solusi yang tepat untuk menghindari akibat dari makmum masbuq, yaitu seorang makmum harus siap untuk melakukan jama’ah lebih dulu dari imam, serta bergegas melakukan takbir sesudah takbiotul ihramnya imam.  Wallahu a’lam bishshawab.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan