Tafsir Al Fatihah

fakhir millah
2 Min Read

Surat al Fatihah adalah salah satu surat dalam Al Quran yang tergolong Makkiyah, berisikan tujuh ayat, memuat dua puluh sembilan kalimat dan terangkai dari seratus empat puluh tiga huruf. Lafadz “Bismillahir Rohmanir Rohim”, – dan ayat ketujuhnya, yakni ; ” Shirothol Ladziina  …” hingga pada akhir suratnya-, merupakan bagian dari pada Al Fatihah ini. Apabila tidak termasuk bagian dari surah tersebut, maka ayat terakhirnya adalah “Ghoiril Maghdhlubi ‘alaihim…” sampai selesai.

Di dalam surat ini terdapat empat macam disiplin ilmu pengetahuan agama;

PERTAMA: Ilmu Ushul(Teologi); dan mencakup pada konsep KeTuhanan Allah yang tertuang dalam ayat ” Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin Ar Rohmanir Rohim”. Dan konsep ke Nabian pada ayat ” Al Ladziina An’amta ‘Alaihim”. Berikutnya konsep alam akhirat dalam ayat “Maliki Yaumiddiin”.

KEDUA: Ilmu Furu’ (Fiqh/Yurisprudensi); dan cakupannya yang paling penting pertama adalah urusan praktik peribadatan dan pengelompokannya ada dua: 1. Ibadah bersifat maaliyah(materi) dan 2. badaniyah(non materi). Keduanya sangat dibutuhkan dalam berbagai sendi kehidupan, seperti interaksi(mu’amalah) dan relasi(munakahah). Dan semuanya itu butuh pada hukum/undang-undang yang meliputi perintah sekaligus larangannya.

KETIGA: Ilmu penyempurna(Moralitas), yaitu akhlak. Contohnya, konsisten(istiqomah) menapaki thoriqoh/jalan kebaikan. Inilah yang di isyaratkan oleh ayat “Iyyaka Nasta’in”. Ini dikenal dimensi Hakikat. Dan kandungan syari’at seluruhnya termaktub dalam ayat “Shirothol Mustaqiem” secara umum.

KE EMPAT: Ilmu(history/sejarah) tentang kisah-kisah, kabar berita tentang ummat terdahulu. Baik mereka golongan yang selamat/beruntung, seperti para nabi dan selainnya(syuhada’, sholihin atau semisalnya) yang diabadikan dalam ayat “Al ladziina An’amta ‘Alaihim” dan maupun mereka orang-orang yang celaka golongan kaum kafir pada ayat ” Ghoiril Maghdhlubi ‘Alaihim Wa ladh Dhlolliinn…”. Intaha.

Demikian sekelumit upaya penerjemahan penulis pada kitab tafsir “Marohil Labiid…” karya syeikh Umar Nawawi Banten.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan