Benarkah Nasibmu Berubah Jika Berusaha Keras?

Safii Ahmad
6 Min Read

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Pernahkah kalian mendengarkan atau membaca terjemah ayat tersebut? Apa yang ada dalam benak kalian?

Usaha tidak akan menghianati hasil. Pernahkah kalian mendengarkan orang-orang atau teman atau siapapun mengucapkan kalimat tersebut? Apa yang ada dalam benak kalian?

Ustaz-ustaz dan motivator viral di tivi atau di media social, biasanya menjadikan ayat tersebut sebagai dalil motivasi untuk mengubah nasib buruk seseorang menjadi nasib baik. Mereka mengajak, kalau mau sukses harus berusaha, kalau mau pintar harus belajar, kalau mau kaya harus bekerja, dan banyak lagi kalau-kalau yang lain. Benarkah seperti itu maksud ayat tersebut? Mari kita belajar, sambil santai.

Waktu penulis masih di pesantren, ayat ini pernah menjadi bahan diskusi bahtsul masail antar pesantren se-Jawa. Sangat sengit perdebatan peserta diskusi yang terjadi waktu itu. Para peserta delegasi pesantren sampai ngotot-ngotot membela pendapatnya. Begitulah keseruan diskusi antar delegasi.

Banyak sekali refrensi kitab-kitab tafsir yang mereka ajukan dan bacakan. Dalam artikel ini, penulis akan tuliskan sebagian saja.

Dalam Alquran, ayat lengkapnya berbunyi seperti ini:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS Ar-Ra’d: 11)

Para ustaz dan motivator viral kemudian memotongnya menjadi seperti ini:

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya menjadi seperti ini: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Lalu mereka menafsirkannya menjadi: Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.

Tafsiran seperti tersebut di atas bertentangan dengan realitas lapangan. Berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib dengan membanting tulang, merantau, pergi pagi pulang sore, kaki di kepala dan kepala di kaki, demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tapi berapa dari mereka yang berhasil? Sungguh, ayat Al-Quran merupakan sebuah kepastian. Jika diartikan bahwa perubahan nasib menjadi lebih baik ada di tangan seseorang, tentu tidak akan ada orang gagal dari usahanya. Nyatanya tidak demikian. Perlu diketahui, jika keyakinan bahwa kesuksesan dikembalikan kepada pribadi seseorang bersama dengan usahanya —baru Allah mengikutinya— itu merupakan bagian dari doktrin Mu’tazilah. Dalam paham ini, perilaku hamba menentukan segalanya. Hati-hatilah!

Lalu bagaimana tafsir para ulama? 

Menurut At-Thabari, maksud ayat ini justru menjelaskan bahwa semua orang itu dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri dengan bersikap zalim dan saling bermusuhan kepada saudaranya sendiri. Beliau berkata:

   يقول تعالى ذكره: (إن الله لا يغير ما بقوم)، من عافية ونعمة، فيزيل ذلك عنهم ويهلكهم = (حتى يغيروا ما بأنفسهم) من ذلك بظلم بعضهم بعضًا، واعتداء بعضهم على بعض،  

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum yang berupa sehat sejahtera dan penuh kenikmatan, kemudian kenikmatan itu menjadi dihilangkan dan dirusak oleh Allah, sampai mereka mengubah sesuatu yang ada para pribadi mereka yaitu dengan sikap dzalim antar sesama dan permusuhan terhadap orang lain. (Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami’ul Bayan fi ta’wilil Qu’an, juz 16, hlm. 382).  

Ayat di atas menunjukkan bahwa hakikat setiap manusia itu sebagai orang yang berhak mendapatkan kenikmatan penuh, karena pada dasarnya mereka adalah suci dan mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan kenikmatan dari Allah.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan mengenai tafsir ayat ini: “Dalam ayat ini Allah memberi tahu bahwa Dia tidak mengubah suatu kaum sehingga ada salah satu di antara mereka yang mengubahnya. Bisa jadi dari golongan mereka sendiri, pengamat, atau faktor penyebab yang masih mempunyai hubungan sebagaimana para pasukan yang dikalahkan pada saat perang Uhud disebabkan penyelewengan yang dilakukan oleh ahli panah. Demikian pula contoh-contoh dalam syari’at. (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, 9/294)

Penulis cukupkan dengan mencantumkan pendapat dari dua penafsir terkemuka. Kesimpulannya adalah manusia sudah dibekali kebaikan-kebaikan dalam dirinya. Dan kebaikan-kebaikan itu akan terus ada (terjaga) jika manusia tidak berbuat zalim dan permusuhan. Jika mereka melakukan kezaliman dan permusuhan, maka kebaikan-kebaikan dalam dirinya akan dirusak oleh Allah sebagai pemberinya dan diganti menjadi keburukan-keburukan atau kegagalan-kegagalan. 

Oleh karena itu, tidak tepat jika ayat tersebut dijadikan ayat untuk memotivasi seseorang supaya kuat berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang tepat adalah ayat tersebut dijadikan alat untuk memotivasi manusia supaya pandai bersyukur dan berprilaku baik supaya kebaikan dalam dirinya terawat dan tetap ada. Wallahu a’lam

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan