Pada bulan Sya’ban, Banyak sekali amaliyah yg dianjurkan untuk dikerjakan. Mulai dari puasa, membaca istigfar, membaca al Qur’an, dsb. Salah satu hal yg dianjurkan ialah bersholawat. secara khusus seseorang sangat dianjurkan untuk memperbanyak membaca sholawat. Selain karena banyak hadits yang menjelaskan keutamaan membaca sholawat dan juga pada bulan Sya’ban inilah (menurut mayoritas ulama’) perintah untuk bersholawat kepada nabi diturunkan.
Allah SWT berfirman :
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
56. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Q.S Al Ahzab ayat 56)
Selain banyaknya amaliyah yang dianjurkan untuk dikerjakan dibulan Sya’ban. Ternyata juga terdapat satu amaliyah yg diklaim oleh sebagian ulama’ sebagai perbuatan Bid’ah Qobihah(bid’ah yang tercela). Amalan tersebut ialah Sholat Malam Nishfu Sya’ban.
Sebagaimana yg disampaikan oleh Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari dalam kitab Fathu al-Mu’in li Syarhi Qurroh al-Ain bi Muhimmah ad-Din :
أما الصلاة المعروفة ليلة الرغائب ونصف شعبان ويوم عاشوراء فبدعة قبيحة، وأحاديثها موضوعة. قال شيخنا: كابن شبهة وغيره.
Tentang sholat yang telah terkenal, sebagaimana sholat Roghoib(sholat 12 roka’at pada jum”at pertama bulan Rojab), sholat nishfu Sya’ban, dan sholat malam Asyura’ merupakan perkara bid’ah yg tercela. Dan Hadits yg dijadikan dasar merupakan Hadits palsu, sebagaimana yg telah disampaikan oleh guru kita, seperti Syaikh Ibnu Syubhah dan lain sebagainya.
Namun, Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syato ad-Dimyathi dalam kitab I’anah at-Tholibin yg tak lain merupakan Hasyiyah dari Fathu al-Mu’in menjelasakan tentang tata cara Sholat Nishu Sya’ban. Dan beliau berkata : Bahwasannya para salaf juga mengerjakan hal tersebut, mereka juga menyebut sholat itu dengan Sholat al-Khair, mereka berkumpul untuk mengerjakannya, dan terkadang mereka mengerjakan dengan berjamaah.
Dalam kitab tersebut, beliau juga menukil pendapat al-‘Allamah al-Kurdi, beliau berkata : Para ulama’ berselisih dalam masalah tersebut. Sebagian berpendapat bahwa banyak jalan periwayatan tentang hadits yg dijadikan pijakan, yang apabila dikumpulkan maka akan sampai pada taraf hadits dlo’if yang diperbolehkan mengamalkan untuk fadloilul a’mal, dan sebagian lain menyatakan bahwa hadits yang yg dijadikan pijakan adalah hadits palsu.
Wallahu ‘alam
